Kabar mengejutkan datang dari Semenanjung Korea. Pemerintah Korea Utara larang WNA (warga negara asing) untuk memasuki sejumlah resort pantai di negara tersebut. Langkah ini menuai reaksi internasional karena banyak pihak menilai hal tersebut semakin memperkuat citra tertutup yang selama ini melekat pada negara pimpinan Kim Jong Un tersebut.
Larangan ini dilaporkan mulai diberlakukan sejak awal Juli 2025 dan mencakup beberapa lokasi wisata utama di sepanjang pesisir timur, termasuk kawasan Wonsan dan Hamhung yang selama ini dianggap sebagai destinasi terbuka bagi wisatawan asing. Meskipun tidak ada pengumuman resmi dari pemerintah Korea Utara, informasi ini didapat dari sumber-sumber diplomatik dan pengamat regional.
Penutupan Resort Secara Tiba-Tiba
Sejumlah media Korea Selatan dan Jepang menyebutkan bahwa larangan tersebut terjadi secara tiba-tiba. Bahkan, beberapa turis yang sebelumnya telah memiliki rencana perjalanan melaporkan bahwa mereka harus membatalkan kunjungan tanpa penjelasan resmi.
Menurut beberapa laporan, personel keamanan terlihat melakukan patroli intensif di sekitar kawasan wisata tersebut. Para penjaga memeriksa identitas pengunjung dan langsung menolak akses bagi siapa pun yang berasal dari luar Korea Utara, termasuk mereka yang memegang visa resmi.
Langkah ini memunculkan dugaan adanya aktivitas militer atau persiapan strategis yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.
Alasan Keamanan atau Propaganda?
Sejumlah analis menyatakan bahwa Korea Utara larang WNA sebagai bagian dari strategi pengamanan nasional. Wilayah pesisir timur memang memiliki kedekatan dengan fasilitas militer penting dan lokasi uji coba rudal yang sensitif. Pemerintah Korea Utara mungkin menganggap menjauhkan WNA dari lokasi ini sebagai langkah antisipasi atas kemungkinan kebocoran informasi atau spionase.
Namun, ada juga teori yang menyebut larangan ini sebagai bagian dari kebijakan propaganda internal. Pemerintah mungkin ingin mencegah wisatawan asing melihat situasi sosial dan ekonomi rakyat Korea Utara yang sebenarnya. Dengan membatasi akses WNA, negara ini bisa lebih leluasa menyaring informasi dan mempertahankan narasi tunggal kepada warga negaranya.
Dampak Internasional
Larangan ini tentu membawa dampak negatif terhadap reputasi Korea Utara di mata dunia. Banyak pihak kembali meragukan upaya negara ini dalam membuka sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan baru. Negara-negara seperti China dan Rusia, yang selama ini menjadi mitra pariwisata terbatas, kemungkinan besar juga akan mempertimbangkan ulang kerja sama tersebut.
Selain itu, kebijakan ini menegaskan kembali bahwa Korea Utara belum siap sepenuhnya terbuka terhadap dunia luar, terutama dalam hal transparansi, diplomasi, dan kebebasan informasi.
